Rabu, 19 Juni 2013

Saksi Hidup dari Bawah Tugu Selamat Datang


Saksi Hidup dari Bawah Tugu Selamat Datang
Oleh Georgene Suryani - 11140110060
mainkatamainrasa.blogspot.com


Usianya kini menginjak 51 tahun. Tua dan berkeriput? Tidak sama sekali. Sepasang muda-mudi ini masih tegap berdiri. Masih dengan senyuman yang sama, tetapi mungkin dengan makna yang berbeda. Tangan kanannya melambai ke atas, selalu siap menyambut kedatangan kisah yang baru. Menjadi saksi bisu atas sejarah sang waktu yang terus bergerak, sejarah DKI Jakarta yang kian berganti wajah setiap harinya.

Bak dewa, di bawah kaki si muda-mudi yang tak pernah tua ini berliukan penari-penari gemulai. Tariannya seakan menghipnotis keduanya untuk tetap berdiri di atas meski angin dan hujan kian berderai. Ditemani tembang sang biduan alam. Dikelilingi empat bangunan megah.

Berdiri di jantung Kota Jakarta, patung selamat datang masih  berdiri tegap hari ini. Menjadi simbol kota metropolitan . Menjadi saksi bisu hiruk pikuk kota yang tak pernah mati ini. Tahun 1962, tugu muda-mudi yang tengah melemparkan lambaian tangan ini pertama kali dibangun. Awalnya, Gubernur DKI Jakarta kala itu, Henk Ngantung membuat rancangan desain tugu tersebut. Kemudian, idenya direalisasikan oleh Edhi Sunarso.  

Lampu-lampu berwarna kuning keemasan serta sorotan lampu kendaraan malam itu menambah semarak keindahan liukan air mancur di bawahan patung selamat datang. Apakah air mancur ini bergerak dengan sendirinya? Atau adakah penggerak lainnya? Entah mesin atau tangan manusia. Banyak orang tak pernah meragukan keelokan Bundaran HI yang jika dilihat dari ketinggian terlihat seperti sebuah bola mata. Akan tetapi, mungkin kebanyakan orang tidak pernah menyadari bahwa jauh di bawah 1,8 meter kedalaman kolam di Bundaran HI masih ada kehidupan lainnya.  



Di sisi kiri dan kanan bangunan air mancur terdapat sebuah pintu besi berukuran satu kali satu meter menuju ke bawah tanah. Sekilas terlihat seperti tempat penyimpanan air bawah tanah. Ketika dibuka, sebuah ruangan layaknya bungker zaman dahulu terlihat jelas. Ukurannya tiga kali tujuh meter, berisi mesin-mesin kotak dengan tombol berwarna merah dan hijau, serta kuning. Tak disangka-sangka, di bawah air mancur itu masih ada kehidupan lainnya.


Dari kejauhan, seorang pria berkulit sawo matang tengah berada di ruang bawah tugu selamat datang. Tangannya yang berkeriput sedang sibuk memegang rosario sambil membaca doa. Apakah di bawah tanah ada pastur? Atau mungkin ia seorang yang dikurung di bawah tanah? Tentu saja bukan. Ini bukan lagi eranya penjajahan. Lalu siapakah pria ini?

Ya, ia adalah Herman Stevanus, seorang pria asal Flores hampir setiap berada di bawah sana untuk memantau air mancur yang menjadi ikon kota tujuan orang mengadu nasib ini. Hampir 30 tahun, Herman bergelut di bawah tanah, jauh dari terpaan sinar matahari. Tujuannya hanya satu. Memastikan sang air mancur tetap dapat berliuk indah.

“Gaji saya ya sesuai UMR. Dua koma dua tok, tanpa tunjangan, tanpa gaji tambahan,” ujar pria berusia  57 tahun.

Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 05/Men/1989 tanggal 29 Mei 1989 mengenai Upah Minimum, standar upah minimum di DKI Jakarta pada tahun 2013 yaitu Rp2.200.000,00. Sekilas jumlahnya terlihat besar. Namun, jika dikaitkan dengan tingkat kebutuhan hidup di DKI Jakarta, apakah kata “cukup” sudahlah cukup? Apakah Rp2.200.000,00 sudah bisa menyejahterakan kehidupan para buruh?

“Ya, dicukupinlah. Kita senang mengerjakan ini. Soalnya mau pindah enggak enak. Dulu sudah disekolahin jadi security, sudah dikasih sertifikat dari kepolisian,” tutur pria yang berdomisili di Curug, Banten ini dengan logat khas Flores-nya yang kental.

Setiap harinya, pria ini harus bekerja 24 jam sehari dan tujuh hari dalam seminggu. Tak ada pengecualian untuk hari libur. Pada tanggal-tanggal merah pun, Herman tetap bertugas untuk mengawasi agar jangan sampai terjadi suatu hal yang tak diinginkan di tugu yang menjadi kebanggaan Indonesia saat menyambut tamu ASEAN GAMES pada 1962.

Menjadi anggota dinas pertamanan sedari muda memang jadi cita-cita pria yang memiliki tinggi 160 sentimeter ini. Suka dan duka sudah ia alami selama menjalani tugasnya.

Tak jarang pengalaman horor pun pernah ia alami di bungker yang hampir seusia dengan dirinya itu. “Pernah dulu waktu saya lagi tidur pas hujan-hujan, tiba-tiba ada yang narik kaki saya. Pas saya lihat ada seorang perempuan. Dia bilang suruh temani perempuan itu,” ujarnya sambil bergidik ngeri. Akan tetapi, pria yang beragama Katholik ini langsung buru-buru mengambil rosario andalannya dari lemari dan memanjatkan doa.

“Yang sedih itu kalau pagi-pagi saya kontrol eh taunya sudah ada mayat yang ngambang di kolam di atas,” paparnya sambil menerawang ke atas. Ia selanjutnya menambahkan, kejadian itu sempat terjadi dua tahun lalu. Pertama-tama, korbannya pria. Belakangan ada pula wanita.

***

Bundaran HI, 23 Juli 2012

Dini hari. Udara dingin menusuk-nusuk tulang. Herman yang sudah selesai bertugas memilih untuk kembali ke bungker pribadi miliknya. Ini sudah saatnya ia beristirahat.

Seperti biasa, ia menyiapkan alas kardus miliknya serta bantal seadanya. Kemudian, membaca Alkitab miliknya. Lembar demi lembar Perjanjian Lama dibaliknya. Kejadian. Keluaran. Imamat. Bilangan... Yak Mazmur 109 ayat 105. “Firmanmu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi......

Tiba-tiba saja...

Jedummmmmmmmmmmmmmm....

Dummmmmmmm......

Bunyi dentuman keras di atas kepala Herman tiba-tiba menghentakannya dari renungannya saat itu. Apakah ini cuma halusinasi? Rasanya bukan. Ini benar-benar terjadi di atas bungker kesayangannya. Buru-buru Herman mengambil sandal hitam dan topi dengan logo dinas pertamanan di tengahnya. Keningnya berkerut, jantungnya berdegup kencang, dan tangannya sedikit bekeringat karena panik.

Ia pun menaiki anak tangga, keluar dari lubang perlindungan bawah tanahnya. Kakinya melangkah cekatan. Kiri... Kanan... Kiri... Kanan...

Benar saja. Matanya yang sudah mulai berselaput tidak salah melihat kali ini. Sebuah Mercedes-Benz V8 Biturbo berwarna keperakan sukses mendarat dengan mulus di kolam tugu Bundaran HI. Ternyata pukul 03:00 tadi, mobil mewah itu habis memacu kecepatan di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. 120 km/ jam. Dari arah selatan menuju ke utara, aksi kebut-kebutan itu berujung pada maut. Tiga orang pengamen yang sedang duduk-duduk santai sambil menyeruput kopinya tiba-tiba saja dihantam oleh badan sang oto. 

Satu orang tewas dan dua lainnya mengalami luka-luka. Sang pengendara, Darshan Sutrisna, ternyata diketahui berada di bawah pengaruh alkohol dan narkoba.

Rasa lelah dan kantuk seketika itu juga sirna. Ia pun berlari ke arah depan Grand Indonesia. Banyak orang sudah berkerumun di sana, berteriak, “Tolonggggg!!! Tolonggg!!!”

Tanpa tunggu lama, Herman pun menceburkan dirinya ke kolam kemudian memecahkan kaca mobil tersebut dan mengeluarkan sang sopir dari dalam kendaraan.

Memang ini bukanlah kecelakaan yang pertama kali terjadi di Bundaran HI, Jakarta Pusat. Sejak pertama kali bekerja di sana, Herman telah menjadi saksi hidup segala peristiwa di kota yang hiruk pikuk ini. Mulai dari demonstrasi, kecelakaan, hingga bunuh diri. Herman dan tugu selamat datang menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa, potret karut-marutnya Jakarta.

***



Tak dapat dipungkiri, di samping kisah duka, pasti ada pula kisah suka.

Menjadi pengawas air mancur bukanlah pekerjaan yang baru ia lakukan kemarin hari. Ini adalah pekerjaan yang hampir tiga perempat usianya telah ia dedikasikan. Tugu yang selalu ia lindungi. Bahkan, sempat membuatnya dijebloskan ke penjara karena melindungi lampu-lampu di kolam Bundaran HI dari tangan-tangan jahil.

Jenuh? Bisa jadi. Ingin berubah? Mungkin. Tetapi, belum terpikir olehnya untuk berpindah ke lain hati, lain pekerjaan lebih tepatnya. Ia belum kapok. Mungkin hati, jiwa, dan nyawanya sudah menyatu dengan sang tugu yang selalu memberikan senyuman kepada cerita baru setiap harinya itu.

Pikiran Herman pun kembali berputar ke tahun 1999 saat putri satu-satunya akan masuk ke akademi keperawatan. Butuh biaya Rp18 juta Rupiah. Belum lagi biaya kos sang putri sewaktu menjalani pendidikan itu selama tiga tahun. Bukan jumlah yang kecil. Uang darimana, pikirnya. Tapi, tugu air mancur inilah yang menyelamatkannya. Dari tugu inilah ia bisa memperoleh biaya untuk sekolah sang anak, dapur sang istri.

Usia Herman Stevanus kini tak lagi muda. 57 tahun. Bagi sebagian orang, ini adalah saatnya memensiunkan diri. Saatnya menikmati hari tua. Herman pun bisa saja melakukan hal itu. Akan tetapi, ia belum terpikir untuk melakukannya, “Saya mau bekerja mungkin sampai saya udah gak sanggup lagi. Sekarang Tuhan masih pakai saya.”

Sudah banyak kisah yang ia lewati di bawah tugu selamat datang yang selalu tersenyum ini. Ketika orang-orang masih tertidur pulas di kasur empuk mereka, Herman sudah mulai bekerja. Ketika orang-orang bangun dan melintas di pusat kota sibuk ini dan melewati tugu yang selalu ia rawat ini, semuanya mungkin akan berdecak kagum. Akan tetapi, belum tentu orang-orang itu peduli akan mereka yang ada di balik tugu itu. Di bawah tanah. Siapa yang tahu kalau 30 tahun ini ada seorang pria yang bertugas menjaga keindahan ikon kota ini.

Brrrrrrrrrrrr....

Bunyi air mancur menyejukkan telinga Herman Stevanus di sore yang cerah kala itu. Jalan-jalan sore sambil memandang berkeliling air mancur, memastikan semuanya sudah terkontrol dengan baik. Tidak soal orang-orang di luar yang tidak peduli keberadaannya, dedikasi Herman kini sudah terbayarkan, “Kepala dinas pertamanan sekarang selalu mempercayakan perawatan air mancur sama saya. Saya juga yang urus bon lampu-lampu itu. Mahal-mahal semua.”

Tak hanya itu, polisi lalu lintas di Bundaran HI, Supartono, mengakui, “Herman itu orangnya rajin dan baik. Bahkan, yang saya tahu dia punya rumah buat dikontrakin di Curug lho.”

Jika ada acara dari dinas pertamanan, tak jarang kepala dinas pertamanan akan memberikan bonus tambahan pada Herman. Memang terkadang jumlahnya tak seberapa, cuma sekadar uang rokok atau nasi kotak.

Dalam kehidupan, kebahagiaan tidak selalu dapat dibayarkan dengan uang. Sebatas lagu dari bocah-bocah pengamen setiap malam menjelang bisa menjadi hiburan tersendiri bagi Herman. Tak usah muluk-muluk memikirkan bisa tinggal di Hotel Indonesia atau di Hotel Kempinski, cukup dari bungker di bawah tugu selamat datang Kota Jakarta, senyum puas Herman pun masih dapat terlukis. Senyuman kedua insan ini, Herman dan patung tugu selamat datang, masih akan terus menjadi saksi datangnya lembaran kisah baru esok hari. Suka? Duka? Tunggu saja nanti.


Penyakit Jiwa Sama Dengan Kegilaan?

Penyakit Jiwa Sama Dengan Kegilaan?

Oleh : Eldo Christoffel Rafael / 11140110081

 “Ini harus dirapikan”
“Oke ya, sudah”
“Itu juga harus dirapikan”
“Ini juga, nah ini juga , itu juga”

Kata per kata dilontarkan Wahyu Lukito, yang menirukan orang yang mengalami gejala kelainan manic.  Semua barang dirapikan baik miliknya atau milik orang lain. Sederhananya segala sesuatu dibuat menjadi rumit. Apa-apa dikomentari. Namun terkadang apa yang diomongkan penderita tidak sesuai dengan kenyataan.

Menurut Wahyu Lukito yang berprofesi sebagai Kepala Perawat di Rumah Sakit Jiwa Swasta Dharma Graha Tangerang Selatan,  gejala penyakit ini mulai dari  banyak bicara dan emosi  penderita cenderung labil. Kelainan manic masih merupakan salah satu dari sekian banyak penyakit kejiwaan.  Penyakit kejiwaan sendiri ini mengganggu diri sendiri dan lingkungan orang lain. Oleh karena itu harus diperiksa secara klinis

Penanganan Rumah Sakkit Khusus Jiwa mili Swasta memang berbeda. Pasien yang dihadirkan memang tergolong spesial.  Oleh karena itu penangananan  pasien tentu lebih kompleks.

 “Kalo di Rumah Sakit Umum kan dijagain terus ada yang mengurus, dimandikan dan  makanan  bisa dibelikan oleh keluarganya langsung ,tidak melalui perawat  ataupun petugas. Kalo disini ada keperluan yang menyangkut pasiennya itu kan harus sepengetahuan perawat kemudian keluarga diberi tahu setelah itu baru dikirim, dari segi itu saja sudah berbeda. Jadi kita (perawat) yang bertanggung jawab A sampai Z” ujar Luki,  nama sapaannya.

Menurut WHO, pada saat ini industri rumah sakit jiwa(RSJ) memiliki potensi yang cukup besar pravelensi penyakit jiwa. Perbandingannya adalah 1 : 1000, artinya setiap 1000 penduduk atau orang ada satu orang yang mempunyai penyakit jiwa yang memerlukan perawatan intensif.

Apabila jumlah penduduk Jabodetabek sekitar 18 juta (id.wikipedia.org) maka penderita gangguan jiwanya sekita 18 ribu orang. Jika setiap orang atau pasien rata – rata membutuhkan 100 hari perawatan dalam setahun, maka diperlukan 1,8 juta tempat tidur per hari per tahun, sedangkan rumah sakit yang membuka pelayanan psikiatrik (penyakit jiwa) yang memiliki pelayanan rawat inap dan rawat jalan hanya tersedia 2.631 tempat tidur atau hanya 6% dari populasi yang tersedia.

Rumah sakit – rumah sakit tersebut tersebar di beberapa titik kota, misalnya Rumah Sakit Jiwa Pusat yang ada di Jakarta dan Bogor, Bagian Psikiatri di Rumah Sakit St. Carolus Jakarta, RSPAD Gatot Subroto, RSCM, RSAL Mintoharjo. Ada pula, Asrama Rehabilitasi Mental Dharma Graha Ciganjur, Jakarta.

Menurut Luki, jumlah rumah sakit di Jakarta yang tidak memadai dan juga mencari fasilitas yang lebih nyaman bagi pasien membuat masyarakat lebih memilih Rumah Sakit di daerah pinggiran Jakarta.  Salah satunya adalah Rumah Sakit Khusus Dharma Graha yang terletak di Tangerang Selatan. Rumah Sakit Khusus Dharma Graha merupakan Rumah Sakit yang menangani penderita gangguan jiwa, gangguan narkotik dan geriatric. Sampai saat ini, Rumah Sakit ini telah menangani pasien dari berbagai wilayah di Indonesia. Metode penanganan pasien yang diberikan adalah dengan obat-obatan psikiatrik dan complementary terapi (aktivitas penunjang).
 
Kepala Perawat Rumah Sakit Khusus Jiwa Dharma Graha, Wahyu Lukito
Menurut pengalaman Luki selama bekerja di Rumah Sakit Jiwa Dharma Graha kebanyakan keluarga membawa pasien langsung ke rumah sakit jiwa. Namun tak jarang pula keluarga meminta rumah sakit untuk dijemput karena pasien tidak mau berobat.

Sebelum masuk ke rumah sakit jiwa itu, biasanya keluarga datang untuk mencari informasi mengenai gejala abnormal yang diderita anggota keluarganya.

“Perlu masuk disini atau tidak ya? Keluarga sampai bertanya seperti itu” ujar Luki yang sudah bekerja sebagai perawat sejak tahun 2004 lalu.

Luki mengaku sebagai perawat  di Rumah Sakit Jiwa harus mampu berkomunikasi dengan keluarga. Itu dibutuhkan agar tetap ada jalinan hubungan komunikasi yang saling pengertian antara keluarga dengan pasien. Sebab menurutnya keluarga menyerahkan anggota keluarga sepenuhnya kepada rumah sakit. Namun Luki juga tidak memungkiri, masih ada keluarga yang sering menjenguk anggota keluarganya.

“Intinya saya selalu menanamkan kepercayaan diri ke diri pasien, memberikannya pengertian kehidupan, mengajari pola berperilaku seperti apa dan selalu memotivasi agar pasien mampu menjalankan perannya kembali” ujar Luki. **


Warga Rentan Sakit Jiwa

Dalam liputan kompas.com tanggal 6 Oktober 2011 mengenai  “Warga DKI Rentan Sakit Jiwa”, dijelaskan bahwa  warga Jakarta sangat rentan mengalami gangguan mental dan emosional. Tingginya tekanan hidup dan kurangnya kemampuan adaptasi warga terhadap perubahan lingkungan menyumbang pada tingginya gangguan mental dan emosional itu.

Hal tersebut dikemukakan dalam seminar ”Urban Mental Health” yang digelar hari Rabu (5/10) di Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan. Dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia pada 10 Oktober.

Dalam seminar itu, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Irmansyah mengatakan, lingkungan fisik dan psikis di Jakarta membuat warganya cenderung mengalami gangguan perilaku. ”Jakarta tergolong tinggi untuk gangguan mental dan emosional, seperti depresi dan perilaku agresif,” katanya.

Akibatnya terjadi gangguan makan dan tidur, tawuran, penyalahgunaan narkoba, kekerasan dalam rumah tangga, serta kenakalan anak dan remaja. Gangguan mental itu juga mengakibatkan terjadinya perceraian, kekerasan massal, dan bunuh diri.

Fenomena gangguan mental dan emosional yang terlihat sekarang di Jakarta hanya puncak dari gunung es. Banyak hal yang harus diperhatikan para pemangku kebijakan agar gunung es itu tidak meletus menjadi beragam persoalan yang tak bisa ditangani lagi. Untuk itu diperlukan pemahaman bagi masyarakat untuk lebih mengenali penyakit kejiwaan itu sendiri agar lebih cepat tertangani.

Menurut Dokter Kejiwaan Rumah Sakit Atma Jaya Jakarta, Asri  Paramitha Ayu membenarkan bahwa kondisi lingkungan yang banyak terjadi tindak kekerasan bisa memicu orang mengalami penyakit jiwa. 

Dokter yang juga Dosen di Fakultas Kedokteran Atmajaya ini juga mengatakan bahwa   gangguan jiwa itu luas.  Di sela-sela kesibukkannya menjalankan kerjanya, Dokter Ayu panggilannya, membenarkan bahwa pemahaman masyarakat lebih memahami bahwa orang yang aneh di jalanan atau di sekitar mereka itu disebut orang gila.

“Bisa disebut penyakit jiwa bila aktivitas sehari-hari dia lakukan jadi tidak bisa dikerjakan. Misal orang itu mengajar jadinya tidak bisa mengajar lagi, maunya di rumah dan tidak mau berkomunikasi dengan orang lain”, ujarnya.

Pasien harus  mempunya gejala, hendaya dan mengalami  distreess (stress). Dia merasa tidak nyaman atau dia merasa sesuatu yang tidak benar dari dirinya atau dia mengalami kesulitan dengan orang-orang di sekitarnya. Menurut Ayu bila semua itu terpenuhi baru dapat disebut gangguan jiwa. Apapun yang menyebabkan kondisi itu kita bisa sebut gangguan jiwa. Namun Dokter Ayu menambahkan  harus  tetap ada pemeriksaan klinis oleh dokter atau psikiater.

Gangguan jiwa itu ada di pikiran, perasaan dan perilaku termasuk penggunaan obat narkoba. Faktor fisik misalnya orang mengalami demam tinggi, ngomongnya ngaco. Tapi itu gangguan jiwa organik. Misalnya infeksi TBC di paru-paru tapi kumannya bisa ke sampai ke otak, begitu kuman menyerang otak  maka perilaku bisa menjadi aneh sehingga pasien menjadi mudah jadi gelisah dan emosional. Itu  disebut gangguan jiwa organik.

“Atau orang kecelakaan, sampai pingsan dan pendarahan. Begitu sadar jadi ngaco ngomongnya atau kepribadian jadi berubah. Itu bisa disebut gangguan mental jiwa organik. Tentu fisik dan mentalnya harus diobati karena keduanya saling berhubungan”, ujar Dokter Ayu di sela-sela waktunya mengajar di Fakultas Kedokteran Atma Jaya.
                                                                                     
Ada juga yang berhubungan dengan narkoba. Penggunaan narkoba pecandu itu sebetulnya masuk dalam kategori gangguan jiwa. Gejala-gejala klinis terutama dia tidak mau lepas dari ketergantungannya , sedang dalam kondisi apapun dia akan terus mencari obat. Misalnya orang itu jadi mencari putau atau ektasi. **

Campuran Realitas dan Halusinasi

Pernah menonton A Beautiful Mind? Film yang diadaptasi dari buku biografi berjudul sama karya Slyvia Nassara menceritakan kehidupan matematikawan bernama John Nash. Di film tersebut karakter Nash diperankan oleh aktor kawakan, Russell Crowe. Dikisahkan bahwa John Nash peraih Nobel Ekonomi pada tahun 1994 ini adalah orang yang jenius namun apatis dalam pergaulannya.

Nash yang lebih suka belajar otodidak dalam hidupnya akhirnya meraih gelar doktor hingga mampu diterima di pusat penelitan bergengsi di Wheeler Defense Lab di MIT (Institut Teknologi Massachussets).

Di sisi lain Nash ternyata mengidap penyakit gangguan jiwa skizofernia yaitu suatu gangguan jiwa yang dimaan penderitanya tidak bisa membedakan antara halusinasi dan kenyataan. Penyakit tersebut dideritanya sejak Ia di Princeton namun semakin parah ketika mengajar di MIT.

Menurut Dokter Ayu, hal yang dialami Nash itu mudah ditemui di kota-kota besar khususnya di Jakarta. Ia mengilustrasikan kejadian ekstremnya,  saat kita  melihat orang-orang gelandangan dan telanjang di jalan.  Kalo kita ajak ngomong dia ia balas kacau kadang-kadang dia makan sampah, bukan karena sekedar dia gelandangan di jalan tidak ada makanan jadi membuatnya makan sampah. Tapi memang dia tidak bisa membedakan fantasi dan realita.

“Dia telanjang karena dia tidak bisa tempatin diri sebagaiamana seharusnya di tempat umum.  Terkadang dia ngomong sendiri dan berteriak. Saat Ia berbicara atau berteriak dalam fantasinya Ia sedang bersama orang sebagai lawan bicaranya”kata Dokter Ayu.

Ia juga mengatakan setiap ada kejadian gangguan jiwa pasti ada zat-zat kimia yang tidak stabil di otak. Gangguan jiwa jenis apapun maka  kondisi fungsi otak ikut terganggu.

“Kita dari kalangan medis menyebutnya neuro transmitter. Dalam gangguan jiwa pasti neuro transimitter tidak seimbang ada  yang kebanyakan atau kekurangan dari seharusnya itulah sebabnya butuh obat” kata Dokter Ayu.

Tentu gangguan jiwa yang berat yang  ketidak seimbangnnya sudah sangat yang ekstrim sehingga perlu diseimbangkan lagi dengan obat. Pada gejala stress ringan memang kinerja neuro transmitter memang tidak seimbang, tapi orang lebih mudah untuk mengatur diri agar lebih rileks dan santai.   

Dalam mengecek neuro transmitter seseorang dibutuhkan pemeriksaan klinis. Menurut Dokter Ayu memang tidak pernah dicek secara lab sebab lebih akurat bila dilakukan pemeriksaan klinis psikiatri. Setelah dilihat dari klinis  dan divonis penyakit sudah kronis dan berbahaya maka dalam  kondisi itu dibutuhkan obat.  “Untuk itu memahami hal neuro transmitter itu ya belajarnya bertahun-tahun” ujar Dokter Ayu yang sedang melanjutkan gelar Doktoral di Redboud University, Nijmegen, Belanda.   
Dr. Spesialis Kejiwaan,  Asri  Paramitha Ayu 

Tidak ada ukuran pasti dalam pemberian obat karena harus dicek gejala klinis terlebih dahulu. Jadi dalam kasus tertentu, orang butuh obat untuk menyeimbangkan neurotransmiter yang dilihat terlebih dahulu dari gejala klinis. Maka ada obat yang mesti diminum jangka panjang , ketika berhenti diminum  maka bisa terjadi ketidakkeseimbangan pada neuro transmitternya sehingga penderita sakitnya bisa kambuh lagi. Dokter Ayu juga mengatakan bahwa juga ada obat-obat yang mesti dihentikan tapi pelan-pelan jadi tidak bisa berhenti langsung.

“Ini tidak seperti demam yang bisa diukur dari suhu orang 37 derajat, perlu dikasi obat. Bila panas suda berkurang , kita bisa kurangi atau bahkan diberhentikan obatnya. Itu tidak bisa dilakukan dalam proses penyembuhan penyakit kejiwaan karena segala proses yang berlangsung ada di dalam otak” ujar Dokter Ayu. **


Tantangan dan Pemulihan

“Tantangan terberat itu bukan pada saat belajar ilmu psikiater, berdiskusi dengan dokter lain dan bukan saat bertemu dengan pasien. Tapi membuat masyarakat sendiri mengerti tentang psikiatri” ujar Dokter Ayu.

Ia mengaku masih banyak stigma bahwa orang gangguan jiwa itu aneh dan bahkan kalangan dokter sendiri masih kesulitan menemukan istilah-istilah tepat agar tidak muncul stigma yang muncul di masyarakat seperti pasien penyakit jiwa itu gila.

Orang yang menganggap aneh itu justru malah membawa orang pengidap penyakit kejiwaan ke tempat yang bukan seharusnya Ia berobat. Seperti dibawa ke dukun atau bahkan dipasung.

“Sampai sekarang kejadian pemasungan itu masih ada, bahkan di kota-kota besar” ujarnya.

Itu terjadi sebab informasi masyarakat tentang psikiatri belum ada. Belum ada penjelasan yang mudah dimengerti dan diterima masyarakat agar mengerti bahwa gangguan jiwa itu jenisnya banyak dan beragam kelas penyakitnya.

Misalnya dalam pengobatan pasien. Masyarakat masih belum memahami bahwa pasien penyakit jiwa itu bisa disembuhkan dengan terapi disertai obat. Menurut pengalaman Dokter Ayu, banyak keluarga pasien menganggap dengan meminum obat yang dianjurkan dokter maka akan terjadi ketergantungan. Padahal obat itu dibutuhkan untuk menyeimbangkan neuro transmtter yang membutuhkan waktu yang panjang dan butuh kontrol ketat.

Dokter Ayu mengatakan para psikiater masih dalam proses mengedukasi masyarakat tentang gangguan jiwa. “Memberi edukasi masyarakat itu butuh waktu” ujarnya.

Perlu diingat gangguan jiwa bisa terjadi juga karena penyakit fisik. Misal orang yang terkena kanker. Mereka sebetulnya memiliki depresi dan cemas yang tidak tertangani dengan baik.  Orang akan melihat wajar orang kanker terkena stress.

Gangguan jiwa bisa membuat fisik menjadi melemah. Padahal bila Badan kita satu kalo jiwa stress  bisa menurunkan imunitas tubuh.   Ada mekanisme biologis sehingga hormon stress meningkat membuat daya tahan tubuh menurun.

“Padahal, bila pasien mau lebih menerima sakit itu membuat proses terapi dan pemulihan fisik menjadi lebih baik”, ujarnya. Hal itu tentu bisa berujung pada kesembuhan pada diri pasien. Untuk itu perlu ditanamkan pada benak masyarakat bahwa pasien penyakit jiwa itu bisa disembuhkan asal ditangani dengan baik. Sebab mereka awalnya orang biasa yang karena berbagai macam problematika hidup sehingga memaksa diri menjadi orang sakit. Mereka butuh uluran empati dari segenap masyarakat untuk bisa pulih kembali.

Selama hampir sepuluh tahun bekerja menjadi perawat di Rumah Sakit Jiwa Dharma Bakti, Wahyu Lukito mengatakan sudah pernah bertemu dengan orang-orang yang berhasil sembuh dari penyakit jiwa.

“Ada yang sakit (kejiwaan) saat kuliah, sembuh kemudian lulus. Ada yang sebelumnya menjadi pengusaha, jatuh sakit kemudian sembuh akhirnya usahanya kembali membaik” kata Luki.

Itu membuktikan bahwa penyakit Jiwa itu tidaklah abstrak seperti yang banyak diutarakan orang. Sehingga anggapan penyakit jiwa tidak mungkin untuk disembuhkan itu bisa ditepis dengan mudah. Karena bila ada keyakinan dari dalam diri pasien, dokter, perawat serta dorongan motivasi keluarga maka penyakit jiwa pasti bisa disembuhkan. ***


Perlu diingat, John Forbes Nash, pengidap penyakit scizofernia adalah orang mampu meraih gelar Nobel Ekonomi. Sebuah gelar yang diidamkan oleh jutaan ekonom di dunia. Tentu hadiah Nobel itu didapat karena  otak dan dedikasi yang dimilikinya, mampu membantu dunia pendidikan ekonomi jadi lebih baik lagi.




Louvre, Museum Terbesar di Dunia

Museum Louvre merupakan sebuah museum yang dikelilingi oleh tiga bangunan berbentuk piramida, dimana salah satu piramida yang terbesar berperan sebagai pintu masuk. Louvre selesai dibangun pada tahun 1989 dan menjadi salah satu tujuan wisata di Paris.

Pembangunan piramida sempat menimbulkan berbagai kontroversi.

“Banyak orang yang mengganggap struktur bangunan piramida yang begitu futuristik tersebut terlihat berbeda dengan bentuk bangunan museum Louvre yang klasik,” tour guide saya, Joan, menjelaskan dengan bahasa Inggris yang terpatah-patah.

Musee du Louvre
Saya tiba di airport Charles de Gaulle pada tanggal 24 Mei pagi setelah terbang menggunakan pesawat Air France dari Schiphol, Amsterdam. Setelah pesawat benar-benar berhenti, saya bersama Ibu dan seorang teman yang juga membawa anak perempuannya turun dari pesawat untuk mengambil bagasi. Dengan jumlah empat koper besar, lantas kami mencari taksi di tengah udara dingin 10 derajat Celcius untuk menuju hotel tempat kami beristirahat.

Setibanya di Arley Hotel Tour Eiffel yang berkawasan dekat dengan menara Eiffel (kami dapat melihat puncak menara Eiffel ketika berada di luar hotel), kami lantas menyantap brunch di café depan hotel karena belum bisa check-in dan hotel tidak menyediakan sarapan.


Seusai sarapan, kami bergegas menuju hotel agar dapat menaruh barang-barang di kamar, lalu kami pergi menuju stasiun trem terdekat dari hotel. Destinasi pertama kami adalah Museum Louvre atau Musee du Louvre dalam bahasa Perancis dimana terdapat banyak hasil karya pelukis atau pemahat terkenal di dunia dipamerkan di dalam museum ini.

Segitiga terbalik di dalam Louvre yang berfungsi sebagai ventilasi.
Penampakan segitiga utama sebagai pintu masuk ke Louvre

Museum ini bertempat di Istana Louvre (Palais du Louvre) yang awalnya merupakan benteng yang dibangun pada abad ke-12 di bawah pemerintahan Philip II. Sisa-sisa benteng dapat dilihat di ruang bawah tanah museum. Bangunan ini diperluas beberapa kali hingga membentuk Istana Louvre yang sekarang ini. Pada tahun 1682, Louis XIV memilih Istana Versailles sebagai kediaman pribadi, meninggalkan Louvre untuk selanjutnya dijadikan sebagai tempat untuk menampilkan koleksi-koleksi kerajaan. Pada tahun 1692, di gedung ini ditempati oleh AcadĂ©mie des Inscriptions et Belles Lettres dan AcadĂ©mie Royale de Peinture et de SculptureAcadĂ©mie tetap di Louvre selama 100 tahun berikutnya. Selama Revolusi Perancis, Majelis Nasional Perancis menetapkan bahwa Louvre harus digunakan sebagai museum untuk menampilkan karya-karya bangsa. [1]

Saya tidak pernah merasa sesemangat ini ketika memasuki sebuah museum. Dipacu oleh film The Da Vinci Code, saya bertekad untuk mengelilingi museum ini untuk melihat karya Leonardo Da Vinci, yaitu lukisan Monalisa dan lukisan The Last Supper. Selain itu, anak dari teman Ibu saya, Levina, ingin melihat patung Venus de Milo yang juga tidak kalah terkenal.

Namun, Museum Louvre begitu luas sehingga saya dan Levina kerap kali merasa tersasar walaupun masing-masing dari kami sudah diberikan sebuah alat informasi. Kami selalu terperangkap di kawasan karya dari Mesir, seperti : Sphinx, Mumi, Osiris, Isis, dan sebagainya. Kami juga seperti berputar-putar di bagian karya asal Yunani – apabila akhirnya kami berhasil keluar dari kawasan Mesir.

Egyptian Antiquities
Zona ini memiliki berbagai macam artefak yang berasal dari peradaban Nil (4000 SM sampai abad ke-4). Terdiri dari periode Mesir Kuno, Kerajaan Tengah, Kerajaan Baru, seni Koptik dan Romawi, Ptolemaic dan Byzantine, saya seakan-akan dibawa kembali ke zaman dahulu. Sebenarnya saya heran, bagaimana cara para arkeolog bisa menemukan benda-benda antik seperti yang dipajang di depan mata saya.

Dijaga oleh Sphinx (2000 SM) berukuran besar, koleksi-koleksi ini ditempatkan lebih dari 20 ruangan. Barang-barang yang dipajang berupa barang seni, gulungan papirus, mumi (saya melihat mumi asli di sini!), pakaian, perhiasan, alat permainan, alat musik, dan juga senjata. Saya menemukan patung Osiris dan Isis di zona ini. Sayang, penjelasan yang diberikan tidak terlalu banyak. Terdapat pula gambar The Eye of Ra dan The Eye of Horus yang merupakan perlambangan Matahari dan Bulan.


Sphinx
Osiris















Terdapat pula satu ruangan sempit, mungkin berkisar 1mx3m yang diletakan di tengah-tengah zona. Ruangan sempit ini terbuat dari batu yang sudah diukir menggunakan huruf Mesir Kuno. Saya seperti masuk ke dalam sebuah pyramida di Giza yang nantinya akan menuntun saya ke sebuah makam kuno para raja-raja Mesir.

Semua yang dipajang hampir masih dalam keadaan baik, namun beberapa gulungan papirus nampak mulai pudar atau para arkeolog hanya mendapat sebagian potongan saja.

Near Eastern Antiquities
Zona ini merupakan zona terbaru nomor dua sebagaimana penjelasan yang saya dapat dari alat informasi.

Menyajikan peradaban Timur sebelum datangnya Islam, zona ini dibagi menjadi tiga wilayah, yaitu Levant, Mesopotamia (Irak dan Suriah), dan Persia (Iran). Seni-seni yang ditampilkan lebih banyak kepada batu mozaik dari marmer yang sangat indah. Beberapa jenis tergolong dalam ukuran besar dan ada beberapa bagian yang belum ditemukan atau hilang.

Terdapat kaligrafi yang diukir di atas batu dengan sangat rapihnya. Membuat saya dan Levina tercengang melihatnya. Bagian Persia berisi karya dari periode kuno, seperti misalnya Kepala Penguburan dan juga Pemanah Persia dari Darius. Bagian ini juga berisi benda-benda langka yang berasal dari Persepolis.

Greek, Etruscan, dan Roman
Zona ini berisi karya-karya yang berasal dari Mediterania Basin mulai dari zaman Neolithic abad ke-6.  Merupakan salah satu zona tertua, koleksi di dalamnya membentang dari periode Cycladic. Fokus zona ini adalah patung Venus de Milo yang sangat terkenal sebagai simbol seni klasik.

Zona ini tidak kalah besar dengan zona Egyptian. Mungkin keduanya sama besar sehingga kerap kali membuat saya dan Levina merasa bolak-balik di antara kedua zona ini.

Karya-karya yang ditampilan dimulai dari seni kerajaan yang diperoleh pada masa Francis I. Awalnya, koleksi difokuskan pada patung marmer, contohnya adalah Venus de Milo.



Venus de Milo


Terdapat banyak patung dewa-dewi di zona ini, contohnya Athena, Hermes, Apollo, dan Aphrodite. Tidak hanya dalam satu bentuk, namun dalam beberapa bentuk yang berbeda. Selain itu, terdapat pula patung kepala dari tiga filosof terkenal, yaitu Socrates, Plato, dan Aristoteles (ketiganya merupakan filosof favorit saya).



Aristoteles, Plato, Socrates

Athena



Selain patung-patung, terdapat pula Sarkofagus, yaitu peti mati dari batu dengan varian bentuk dan warna.

Dalam zona ini, Louvre memegang karya dari era Helenistik, termasuk The Winged Victory of Samothrace dan (tentu saja) Venus de Milo. Potret Romawi juga tergambarkan dari potret Agripa dan Annius Verus; dengan perunggu Greek Apollo of Piombino

Islamic Art
Koleksi seni Islam merupakan salah satu zona terbaru di Museum Louvre yang terdiri dari rentang “tiga belas abad dan tiga benua”. Terdiri dari berbagai macam keramik, kaca, kayu, gading, karpet, tekstil, dan juga miniature.

Beberapa karya yang ditampilkan adalah Pyxide d’al-Mughira, kotak gading abad ke-10 dari Andalusia, Baptistery daru Saint-Louise, sebuah baskom kuningan yang berukir dari abad 13 atau 14 periode Mamluk, dan Kain Kafan abad ke-10 dari Saint-Josse, Iran.

Walaupun zona ini tidak seluas zona lain dan benar-benar masih terasa baru, namun karya-karya yang dipajang cukup membuat saya ternganga saking indahnya. Terlebih lagi pada seni mozaik. Walaupun ada beberapa bagian yang hilang atau belum ditemukan, tetap saja terlihat keindahannya.

Sculpture
Walaupun di zona Yunani, Etruscan, dan Romawi terdapat banyak jenis patung, tetapi di zona Sculpture ini berisi karya-karya pemahat di luar zona tersebut. Dengan kata lain, isi dari zona ini adalah patung-patung yang tidak termasuk dalam Yunani, Etruscan, dan Romawi. Zona ini sebelumnya merupakan bagian dari Decorative Arts, sebelum akhirnya dipisah pada tahun 2003.

Awalnya, zona ini berisi koleksi sebanyak 100 buah saja yang merupakan sisa dari koleksi patung kerajaan yang berada di Versailles.

Zona ini dibagi menjadi dua, yaitu karya asing di sayap Denon dan koleksi patung Perancis yang berisi karya romantic seperti Daniel in the Lion’s Den dan Virgin of Auvergne dari abad ke-12 yang terdapat di sayap Richelieu. Pengaruh Renaissance membuat patung Perancis menjadi lebih terkendali, seperti yang terlihat di Jean Goujon’s Bas Relief dan Germain Pilon’s Descent from the Cross dan Resurrection of Christ.

Karya neoklasik dihidupkan kembali dalam Psyce Antonio Canova dalam Cupid’s Kiss.

Lukisan
Fokus saya di zona ini adalah tak lain dan tak bukan, lukisan Mona Lisa karya Leonardo da Vinci. Termasuk dalam zona Italia, Mona Lisa sangat menarik perhatian pengunjung sampai-sampai saya berdesakan ketika ingin memotret dari jarak dekat. Tetapi, akibar ketenaran Mona Lisa itu sendiri, untuk melihat lukisan ini dari jarak dekat pun masih terlihat begitu jauh karena diberi pembatas. Selain itu, lukisan Mona Lisa juga ditutup menggunakan kaca, mungkin untuk menghindari pencurian yang pernah terjadi sebelumnya.



Mona Lisa

Diberi kaca agar tidak terjadi pencurian





















Mona Lisa atau La Joconde dalam bahasa Perancis merupakan lukisan setengah badan seorang wanita yang telah diakui sebagai “yang paling terkenal, yang paling banyak dikunjungi, paling banyak ditulis, paling banyak dinyanyikan, serta paling banyak diparodikan di dunia.”

Lukisan yang katanya merupakan potret Lisa Gherardunu, istri dari Francesco del Giocondo, diyakini telah dilukis antara tahun 1503 dan 1506. Lukisan ini telah diakuisisi oleh Raja Francis I dari Perancis dan kini menjadi milik Perancis sejak tahun 1797.

Ekspresi ambiguitas yang ditampilkan oleh subjek sering dikatakan sebagai hal yang misterius. Dikatakan memiliki makna semiotika tersendiri, mulai dari penempatan tangan, background lukisan, sampai kepada senyumnya yang misterius.

Mona Lisa memang merupakan daya tarik utama yang membuat saya ingin berkeliling Museum Louvre.

Selain itu, terdapat pula lukisan The Last Supper dan Madonna of the Rock atau Virgin of the Rocks.

***
Tidak terasa sudah hampir lima jam kami berputar-putar mengagumi karya-karya yang luar biasa. Sampai akhirnya Ibu saya mengirimkan pesan singkat yang menanyakan keberadaan kami. Sebagai informasi, Ibu dan Tante Melvin tidak ikut mengitari Louvre. Mereka memilih untuk duduk di café, menghirup secangkir Hot Chocolate.
Sekitar jam setengah tujuh malam, akhirnya kami berempat keluar dari kawasan Louvre. Langit masih cerah dan matahari baru akan terbenam sekitar jam 10 malam. Louvre jelas memberikan pembelajaran yang banyak dalam berbagai hal.

“Kalian membutuhkan waktu seharian untuk berkeliling Louvre,” ujar tour guide saya sebelum kami memasuki Louvre.

Dan memang benar, waktu lima jam tidak cukup untuk melihat keindahan karya-karya seni yang dipamerkan di Louvre.




Oleh :
Natasha R. Sinsoe
11140110244